CARA PENYIMPANAN BENIH YANG TEPAT UNTUK BENIH TAHAN LAMA


CARA PENYIMPANAN BENIH YANG TEPAT UNTUK BENIH TAHAN LAMA

Jasminawati, S. P
Benih adalah simbul dari suatu permulaan; ia merupakan inti dari kehidupan di alam semesta dan yang paling penting adalah kegunaannya sebagai penyambung dari kehidupan tanaman. (Lisa Sutopo, 1985).
Dari perngertian yang dipaparkan oleh Lisa Sutopo menjelaskan benih merupakan hal yang sangat penting untuk mendapatkan perhatian secara khusus. Karena bagusnya tanaman yang akan tumbuh sangat bergantung dengan kualitas bibit. Kualitas yang dimaksud disini adalah benih harus mencakup factor varietas, persentase perkecambahan, persentase biji rumput-rumputan, kekuatan tumbuh, bebas dari hama dan penyakit serta kontaminan-kontaminan lainnya. Kegagalan benih untuk mencapai satu atau lebih faktor-faktor tersebut dapat dipandang menunjukkan sebagai benih yang berkualitas kurang baik.
Setelah kita mendapatkan benih yang bagus, hal berikutnya yang tidah kalah penting untuk diperhatikan adalah penyimpanan benih. Tujuan utama penyimpanan benih adalah untuk menjaga dan mempertahankan viabilitas makasimum benih yang tercapai pada saat benih masak fisiologis atau berada stadium II dalam konsep Steinbaurer (1958). Adapun maksud dari penyimpanan benih yaitu agar benih dapat ditanam pada musim yang sama di lain tahun atau pada musim berlainan dalam tahun yang sama, atau untuk tujuan pelestarian benih dari suatu jenis tanaman. Untuk tujuan ini diperlukan suatu periode simpan dari hanya beberapa hari, semusim, setahun bahkan sampai berpuluh tahun bila ditujakan untuk pelestarian jenis.
PERIODE SIMPAN 
 Dalam periode simpan terdapat perbedaan antara benih yang kuat dan lemah, yaitu terletak dari kemampuannya untuk bertahan dari kurun waktu yang lama. Berdasarkan umur yang dapat dicapai oleh benih tanaman dalam kondisi yang optimal menurut Ewart (1908, dalam Owen, E.B. 1956) membaginya dalam tiga golongan, yaitu:
1.      Mikrobiotik: untuk biji-bijian yang umurnya tidak melampaui dari 3 tahun
2.      Mesobiotik: untuk biji-bijian yang umurnya dapat mencapai antara 1-5 tahun
3.      Makrobiotik: untuk biji-bijian yang umurnya dapat mencapai antara 15-100 tahun
Penggolonga ini sangat bergantung pada pengetahuan tentang kondisi penyimpanan yang optimal bagi tiap-tiap jenis tanaman. Biasanya udan yang benar-benar kering dan dingin dapat melindungi benih dengan sangat baik. Biji-bijian dan benih dari bahan pangan umumnya tidak dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama, seperti: benih kedelai dll.
Delouche et al (1972, dalam s. Sadjad. 1977) membedakan antara kondisi lingkunngan yang memungkinkan penyimpanan jangka pendek, menengah dan panjang sebagai berikut:
1.      Penyimpanan jangka pendek (1-9 bulan)
Secara garis besar untuk penyimpanan jangka pendek dapat dilakukan apabila temperatur dan kelembaban nisbi lingkungan simpan 30˚C-50%, maka kadar air maksimum untuk benih cerealia 12% dan benih berminyak 8%. Sedangkan pada kondisi lingkungan simpan 20˚C-60%, kadar air maksimum untuk benih-benih tersebut masing-masng 13% dan 9,5%.

2.      Penyimpanan jangka menengah (18-24 bulan)
Untuk penyimpanan jangka menengah atau sedang, kondisi lingkungan simpan benih tanaman pangan harus memeliki tempetatur kelembaban nisbi lebih rendah. Dalam alternatif kondisi lingkunan simpan 30˚C-40%, kadar air benih cerealia maksimum 10% dan benih berminyak 7,5%. Pada kondisi simpan 20˚C-50%, kadar maksimum untuk masing-masing jenis benih 12%-8%, sedangka pada 10˚C-60%, kadar air benih maksimum untuk masing-masing benih adalah 12% dan 9%.

3.      Penyimpanan jangka panjang (3-10 tahun)
Penyimpanan benih jangka panajang memerlukan kondisi lingkungan simpan yang temperetur dan kelembaban rendah. Misalnya: untuk angka penyimpanan 3-5 tahun, diperlukan temperatur dan kelembaban nisbi 10˚C dan 45%, sedangkan untuk penyimpanan 5-15 tahun diperlukan temperatur 0-5˚C dan kelembaban nisbi 30-40%. Kondisi lingkungan ini hanya dapat dicapai apabila lingkungan simpan tertutup.


FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI VIABILITAS (DAYA HIDUP) BENIH DALAM PENYIMPANAN
A.    Faktor Dalam
1.      Jenis dan sifat benih
Hal mendasar yang penting untuk diketahui adalah benih tersebut berasal dari tanaman daerah tropis, sedang atau dingin yang bersifat hydrophyt, mesophyt atau xerophyt; apakah termasuk ke dalam golongan mikrobiotik,mesobiotik atau makrobiotik dll. Semua keterangan tentang jenis dan sifat benih ini sangat penting untuk dapat mempertahankan viabilitas benih selama penyimpanan. Cara dan tempat penyimpanan pun harus disesuaikan dengan jenis dan sifat benih yang akan disimpan.
2.      Viabilitas awal dari benih
-          Untuk mendapatkan benih yang baik sebelum disimpan maka biji harus benar-benar masak di pohon dan sudah mencapai kematangan fisiologis yang sempurna. Karena pada masa penyimpanan benih hanya mengalami masa kemunduran viabilitas yang tidak dapat dihentikan laju kemundurannya. Untuk itu pemilihan benih serta cara penyimpanan yang baik merupakan cara untuk mengurangi kemunduran viabilitas benih sehingga dapat diatasi sekecil mungkin.
-          Menurut Barton (1941, dalam Owen, E.B., 1956), dia menemukan bahwa benih dengan viabiltas awal yang tinggi lebih tahan terhadapat kelembaban serta temperatur tempat penyimpanan yang kurang memadai, dibandingkan dengan benih yang viabilitas awal rendah.
-          Tingkat kemasakan benih pada saat panen menentukan viabilitas dan ketahanan benih pada saat penyimpanan.
-          Cara panen harus seteliti mungkin untuk menghindari kerusakan mekanis pada benih. Benih yang rusak akan mudah diserang cendawan, bakteri dan serangga hingga menjadi busuk.
-          Sebelum disimpan sebaiknya benih sudah dipilah dari benih yang pecah, cacat, busuk dan kotoran dari lapangan seperti jerami, pasir, tanah serta bebas dari biji tanaman lain yang tidak dikehendaki.

3.      Kandungan air benih
Benih pada saat dipanen biasanya memiliki kandungan air sekitar 16-20%, untuk dapat mempertahankan viabilat maksimun kandungan air harus diturunkan dengan cara di keringkan.
Viabilitas dari benih yang disimpan dengan kandungan air tinggi akan cepat sekali mengalami kemunduran. Hal ini disebabkan sifat benih yang higroskopis. Biji sangat mudah menyerap uap air dari udara disekitarnya. Selain itu biji juga merupakan penghantar panas yang jelek. Konduksi panas pada bisi biasanya terjadi karena gesekan sesama biji, untuk itu penting diperhatikan benih sebelum disimpan harus mempunyai kandungan air yang seragam.

B.     Faktor Luar
1.      Temperature. Temperature optimum untuk penyimpanan benih jangka panjang terletak pada 0˚-32˚F (-18˚-0˚C). Antara kandungan air dan temperatur terdapat hubungan yang sangat erat dan timbale balik. Jika salah satu tinggi maka yang lainnya harus rendah.
2.      Kelembaban. Bagi kebanyakan jenis benih kelembaban nisbi antara 50-60% temperature antara 32˚-50˚F (0˚-10˚C) adalah cukup baik untuk mempertahankan vianbilitas benih paling tidak untuk jangka waktu 1 tahun.
3.      Gas disekitar benih. Bneih yang dikeringkan sampai kadar air 10-12% dan dimasukkan ke dalam katong aluminium dapat bertahan lama. Karena benih sebagai organism hidup akan menggunakan O2 yang ada dan menghasil CO2 sehingga konsentrasi O2 menjadi turun sedangkan konsentrasi CO2 akan naik.
4.      Mikroorganisme. Menurut Halim (1965), ada dua jenis cendawan yang dapat menyerang benih/bibit, yaitu
-          Field fungi (cendawan lapangan) adalah cendawan yang menyerang benih sebelum panen atau segera setelah panen pada waktu menunggu proses pengeringan.
-          Storage fungi (cendawan dipenyimpanan) adalah cendawan yang menyerang benih dipenyimpanan. Yang termasuk cendawa gudang lainnya antara lain: Aspelgillus flavus, Penicillium sp.


PENGERINGAN BENIH
Pengeringan benih adalah suatu cara untuk mengurangi kandungan air di dalam benih, dengan tujuan agar benih dapat disimpan lama.
Tabel: batas temperature yang aman untuk mengeringkan benih (kecuali yang berminyak), dikutib dari Owen E.B., 1956. The Storege o Seeds For Maintenance o Viability
Kadar Air %
(dasar berat basah)
Temperatur Udara Aman untuk Mengeringka Benih
˚F
˚C
18
20
22
24
26
28
30
152-159
142-152
134-146
127-141
120-136
114-133
110-128
66.7-70,6
61,1-66,7
56,7-63,3
52,8-60,6
48,9-57,8
45,6-56,1
43,3-53,3

PENGERINGAN BENIH
Alat Pengeringan
1.      Penjemuran dengan panas sinar matahari (sun drying)
2.      Pengeringan buatan dengan alat mekanis (artificial drying). Keuntungan penegeringan cara ini adalah:
-          Suhu dapat diatur dan kadar air benih dapat merata
-          Tidak tergantung iklimn
-          Waktu pengeringan lebih pendek
-          Mudah diawasi dalam pelaksanaannya
Lama Pengeringan,
Waktu yang dipergunakan untuk proses pengeringan benih ditentukan oleh beberapa faktor antara lain:
1.      Kondisi benih yang akan dikeringkan. Kadar air, besar atau tipisnya kulit juga mempengaruhi lamanya pengeringan.
2.      Tebalnya timbunan benih (jenis, besar,bentuk dan berat biji benih)
3.      Temperature udara. Sebaiknya temperature udara untuk pengeringan diatur antara 95˚-104˚F (35˚-40˚C), temperature terlalu tinggi dapat merusak benih.
4.      Kelembaban nisbi
5.      Kelembaba udara
METODE PENYIMPANAN
A.    Secara Tradisional
1.      Ditimbun dalam tanah. Benih yang disimpan seperti padi, kacang tanah dan jagung.
2.      Diikat pada tonggak atau tiang, benih yang disimpan seperti jagung dan kacang tanah.
3.      Diletakkan pada tempat dengan ketinggian 1 meter atau lebih dari tanah. Seperti benih padi, jagung, dan kacang tanah
4.      Digantungkan pada tonggak horizontal dan ditutup dengan atap ilalang. Biasanya dilakukan pada benih padi.
5.      Ditimbun diatas lantai paggung, dan tutup dengan sejenis atap jerami. Bahan yang disimpan adalah padi dan jagung
6.      Terbuat dari kayu yang ditinggikan dari atas tanah dan diberi atap ilalang (lumbung sederhana). Bahan yang disimpa adalah semua jenis benih
7.      Diletakkan di dapur (keranjang). Bahan yang disimpan adalah kacang-kacangan dan gabah.
8.      Dibuat ikatan-ikatan kecil digantungkan di bawah atap rumah, biasanya di atas perapian dapur, bahan yang disimpan adalah jenis cerealia.

B.     Penyimpanan Modern
Ada dua metode penyimpanan secara modern, yaitu:
1.      Penyimpanan dalam karung (dari bahan: sisal, kenaf dan jute) dan diletakkan di gudang.
2.      Penyimpanan secara bulk dalam berbagai tipe silo.


Sumber: Lita Sutopo. Teknologi Benih. Jakarta: Rajawali, 1985

No comments:

Post a Comment

Total Pengunjung

Categories

Blog Archive